Ayo gabung bersama

Showing posts with label pasbar. Show all posts
Showing posts with label pasbar. Show all posts

19 September 2016

Himbauan untuk Menyumbangkan Al Qur'an

Postingan ini sebenarnya pada tahun 2015 yang lalu, namun karena belum ada diumumkan di blog ini. Berikut petikannya :
UPDATE (Deadline pemesan Al-Qur'an dan Iqra')



Assalaamu'alaikum (sudah terkumpul Rp.7.550.000 + 56 + 31 Iqra')
H-3, Pelaksanaan Hari minggu dan dana akan dibelikan k Al-Qur'an, Iqra' pada hari jum'at.
Mari ibu, bapak berlomba-lomba dalam kebaikan....
harga 1 Al-Qur'an Rp.45.000,-
harga 1 Iqra' Rp.4.500,-
Bagi Bapak/Ibu yang ingin donasi Al-Qur'an untuk Program pengadaan Seribu Al-Qur'an dan Iqra' yang diadakan GEMA PASBAR (Gerakan Intelektual Muda Pasaman Barat) untuk TPA/TPSA yang membutuhkan di Kab.Pasaman Barat (30 TPA penerima manfaat), bisa menyerahkan langsung (sekitar Padang) kpd panitia dalam bentuk uang atau Al-Qur'an atau Iqra'.
Atau yang mau transfer melalui:
1. Rekening Bank Syariah Mandiri (BSM)
Atas Nama : Khairul Anami
No. Rekening : 7060584499

Untuk konfirmasi, bisa dilakukan ke nomor 083181470977/081372255115 (Khairul Anami).

#Mari Menabung untuk Akhirat
@Sekali Berbagi, Amalannya mengalir terus menerus..
Kegiatan direncanakan tanggal 15 November 2015

21 May 2009

Kedatangan SBY di Pasbar


Pada tanggal 25 Juni 2009 nanti, presiden Susilo Bambang Yudoyono yang akrab dipanggil SBY di jadwalkan akan mengunjungi Pasaman Barat. Hal ini menurut laporan Antara, berkaitan dengan panen jagung perdana di Jorong Sukamenanti Simpang Empat. Suatu hal yang luar biasa tentunya bagi masyarakat Pasbar jikalau hal itu jadi terlaksana. Peluang lebih besar untuk pengembangan potensi Pasbar akan terbuka lebar. Pasbar akan lebih dikenal oleh para investor dalam dan luar negeri. Saat ini Pemda Pasbar telah menyiapkan lahan 100 hektar guna panen perdana tersebut.
Kedatangan SBY juga akan memberikan dampak positif bagi pembangunan Pasbar. Yang akan terlihat jelas dan mencolok nantinya adalah pembangunan jalan-jalan yang akan dilalui oleh rombongan presiden. Kita tentu tak akan lagi melihat lubang-lubang menganga di jalanan nan mulus. semoga.

28 April 2009

Situs Pasbar berubah wajah


Alhamdulillah, saat kami sedang browsing dan singgah ke situs pemda Pasbar. Kami melihat tampilan baru dari situs tersebut. Semoga perubahan tampilan wajahnya nantinya akan juga dibarengi dengan berita-berita yang update tentang kampuang tacinto.... iyo ndak sanak ... ??
Kita berharap IT di daerah juga bisa ditingkatkan sehingga Pasaman Barat lebih dikenal oleh dunia luar. Jika terjadi demikian, maka investor juga akan mulai melirik ke Pasbar. Semoga.

21 February 2009

Percaya atau Tidak tapi itu Kenyataannya ?


Perjalanan dari Pasaman Barat menuju Padang Senin, 16 Februari 2009 menuai pelajaran penting untuk menggerakan tangan, mencurahkan pemikiran, dan keinginan mendobrak keadaan yang seharusnya tidak terjadi apabila memang benar bahwa Sumatera Barat memegang falsafah “Adaik basandi Syarak dan syarak basandi kitabullah “, apalagi ditambah dengan simbol-simbol “Kembali ke Surau”.
Dalam perjalanan terlihat salah satu Mesjid di daerah Sintuk pinggir lintas jalan raya Kabupaten Pariaman, tepatnya jam menunjukan pukul 18.55 wib, terlihat mati tidak ada tanda-tanda kehidupan aktifitas peribadatan. Sekilas pertanyaan muncul kenapa kok tidak ada orang shalat berjamaah di Mesjid itu ?. Dan tentu banyak jawaban yang akan menjadi alasan kenapa mesjid tersebut tidak ada kegiatan shalat magrib berjamaah.
Kemudian pertanyaan yang agak serupa ditujukan pada daerah Pasaman Barat, maka sebagiannya akan dipaparkan kenyataannya!. Dalam salah satu media masa, koran terbitan sumbar pernah dilangsir (Penulis lupa apa media cetak nya, dan tanggal terbitnya.Red ). Bahwa Bupati Pasaman Barat merencanakan pembangunan Mesjid termegah di Pasaman Barat sebagai simbol daerah, yang pendanaannya langsung didanai oleh Pemerintah Daerah. Tentu kita bersyukur dan merasa bangga, disisi lain pemerintah mempunyai perhatian terhadap kebutuhan umat Islam di Pasaman Barat. Tapi jika kita lihat dari sudut yang berbeda dan dengan pertanyaan yang berbeda pula, Kenapa Pemerintah Daerah tidak membangun sumber daya manusianya yang akan mengisi mesjid dan Mushalla yang sudah ada?, apakah pelajaran dari salah satu mesjid Kabupaten Pariman belum cukup?, Mesjid berdiri tapi tidak berpenghuni dan sekilas nampak sebagai simbol semata.
Kalaulah boleh di hitung mesjid dan mushalla di Pasaman Barat tidak kurang dari ratusan buah banyaknya. Sekarang pertanyaan muncul kembali, bagaimana kondisi dan juga manusianya ?. Di daerah Kecamatan Kinali 1 buah Mushalla pinggir jalan raya kondisinya sangat mengenaskan, jangankan menghidupkan aktifitas shalat berjamaah, atap, cendela dan fisik lainnya mengalami kehancuran sehingga menjadi bangunan tua yang tak berhuni ditengah kitaran kelapa sawit dan jagung. Di Kecamatan Luhak nan Duo, Mesjid Berdampingan hanya dipisahkan oleh sungai kecil, dengan jarak lebih kurang 30 meter, namun kondisinya juga aktifitas ibadah lima waktu masih menghawatirkan. Bahkan pernah disalah satu mesjid di Kecamatan kinali, shalat jum’at tidak jadi dan dialihkan menjadi shalat biasa karna tidak ada khatib, desa lain dikecaman yang sama adzan dzuhur dikumandangkan, bahkan jorong yang ada dimushalla pada saat itu malah pergi dengan keretanya entah kemana, tidak ikut shalat berjamaah dimushalla. Di rambah adzan dzuhur dikumandangkan mula-mula siswa-siswa MAN beberapa orang berdatangan, namun diluar dugaan mereka datang sekedar mencuci muka dan setelah itu kembali kesekolah, padahal shalat sudah masuk. Di Plasma kasus yang berbeda, adzan dikumandangkan disalah satu mushalla di Blok E, sepertinya dianggap asing, sebagian warga dan anak-anak berdatangan untuk melihat sang muadzin, dengan penglihatan aneh, namun tidak bereaksi untuk ikut shalat berjamaah. Dan sekarang pertanyaan muncul kembali, siapa yang salah ?, dan apakah pembangunan mesjid sekedar akan dijadikan simbol ?, apakah ada jaminan tatkala mesjid dibangun nanti masyarakat langsung berbondong-bondong datang melaksanakan ibadah, sedangkan yang sudah ada saja mesjid dan mushalla tidak termanfaatkan bahkan seakan mati suri padahal Mesjid atau Mushalla ini adalah kebanggaan umat Islam.
Membangun kesadaran manusia pentingnya keberadaan Mesjid atau Mushalla adalah hal yang harus bagi masyarakat Pasaman Barat. Begitu pula fungsi mesjid dan mushalla, selain ibadah lima waktu juga dapat digunakan berbagai aktifitas lainnya. Inilah perbedaan keberadaan Mesjid atau mushalla sekarang dengan zaman dulu. Sekarang pola berfikir masyarakat mesjid atau mushalla hanya dijadikan tempat shalat dan ibadah-ibadah ritual lainnya tidak lebih dari itu,di masyarakat minang anak bujang dulu sebelum dia menikah tidurnya di surau, tidak hanya sekedar tidur tapi juga menimba ilmu agama selama mereka berada di surau. Tapi sekarang berbalik arah, masing-masing anak bujang sekarang sudah mempunyai kamar sendiri-sendiri, hal ini wajar apabila cara hidup dan penanaman agama anak sekarang jauh berbalik, toh ada itupun gemblengan yang langka dari orang tua yang masih kental dengan nilai-nilai agama atau disekolahkan di sekolah agama seperti pesantren dan lain sebagainya. Sehingganya wajar apabila kasus yang terungkap tadi ada, dan hal ini siapa yang kita salahkan ?. Begitu pula menggerakan atau menghidupkan keberadaan mesjid atau mushalla masih perlu digenjot, tentu tidak terlepas dari tanggung jawab masyarakat dan pemerintah yang ada didaerah ini. Seperti menggerakan wirid-wirid majlis ta’lim, wirid remaja bagi siswa/I, taman pendidikan alquran dan lainnya, walaupun hal ini sudah ada, namun keberadaannya belum teroptimalkan. Hal ini bukannya tidak mungkin apabila memang ada keseriusan, tentu pemerintah juga punya tanggung jawab mempromotori tidak hanya banyaknya keberadaan mesjid dan mushalla, tapi mengisinya jauh lebih penting, sehingga fungsi mesjid dan mushalla dapat berjalan dengan semestinya. “Adaik basandi syarak dan syarak basandi kitabullah “ akan sekedar tinggal dibibir tanpa arti apabila masyarakat tidak peduli dengan pentingnya keberadaan posisi Mesjid dan mushalla masa dahulu, sekarang dan yang akan datang.

07 February 2009

AIR BANGIS SATU POTENSI YANG TERLUPAKAN ?



Kemiskinan seolah menjadi harga mati bagi nelayan di Indonesia ( Kompas,Sabtu 28 mei 2005:39 ). Indonesia punya potensi devisa 82 miliar dollar AS dari laut tiap tahun yang dapat digunakan untuk melunasi utang negara, tetapi tidak dimanfaatkan. Al hasil, devisa tidak diraih dan empat juta nelayan tetap hidup miskin seperti sedia kala.
Dari sekian juta masyarakat nelayan yang disebutkan, masyarakat nelayan Air Bangis adalah salah satunya. Penghasilan nelayan kabupaten pasaman barat(Pasbar) masih jauh dari yang diharapkan. Bahkan belum sanggup memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing nelayan. Sehingga sampai sekarang,masyarakat pinggiran pantai daerah setempat masih tergolong sarang kemiskinan(Padang Ekspres,Kamis 22 Juni 2006:28). Walaupun terobosan-terobosan telah dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pemberdayaan laut sebagai mata rantai kehidupan masyarakat seperti yang dilakukan Balai Pendidikan Pelatihan Perikanan (BPPP) Medan. Hal ini dilakukan sejak tahun 2004 yang lalu,tentu hal ini belum cukup. Belum lagi wilayah tangkapan ikan masyarakat juga dirampas oleh kapal-kapal asing sebagaimana yang dilangsir dalam (Republika,sabtu 16 Agustus 2003:9). Tutur salah satu nelayan “ Kami tidak kuat lagi,kami minta bantuan pemerintah,lima tahun terakhir saja kami sudah membakar 40 kapal nelayan asing”. Namun tragisnya kapal-kapal tersebut sering dilepaskan kembali. “Entah apa sebabnya,kami kurang tahu ,padahal mereka itu umumnya tidak punya paspor” tutur yudi. Sehingganya berakibat pendapatan hasil tangkapan ikan nelayan turun.
Daerah Air Bangis, yang berjarak sekitar 287 kilometer dari kota Padang, berada dipinggiran laut.Daerah yang mempunyai luas 670 kilometer persegi ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil ikan di Sumatera Barat, karena mereka tinggal dipinggir pantai, mata pencarian yang paling utama adalah sebagai nelayan. Dari 12.500 penduduk Air Bangis 75 persen atau sekitar 10 ribu jiwa adalah nelayan. Dari berbagai kondisi tersebut tentu bila tidak menjadi perhatian serius pemerintah dan kita semua, bisa jadi kondisi akan tetap sama seperti sedia kala, dan bahkan akan berimbas pada akibat yang lebih parah. Hal ini sebagai mana yang diceritakan oleh salah seorang mahasiswi asal Air Bangis (Rozana Ismarika), bahwa beberapa waktu yang lalu di daerah ini tertangkap beberapa orang sedang menikmati barang haram (Narkoba), sisi lain cukup banyak juga anak-anak disini yang putus sekolah, beberapa faktor yang mendasari yakni bisa jadi karna faktor ekonomi keluarga dan perhatian pemerintah setempat yang belum serius untuk melihat masalah lebih gamblang di daerah Air Bangis ini.
Permasalahan-permasalan ini adalah tanggung jawab kita semua dan harus disikapi dengan cepat dan tepat. Pasalnya kehidupan ibarat sistem yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.Siklusnya, ekonomi masyarakat sangat mengenaskan,hal ini bisa jadi SDM dan Teknologi kendala utama, dan di kuatkan dengan perhatian pemerintah daerah yang belum serius,berimbas pada sosial ekonomi dan pendidikan baik keluarga maupun masyarakat, dan diperparah lagi dengan ketidak tegasan aparat terhadap baik kapal-kapal asing maupun kepada pihak perusak generasi dengan memberi ruang gerak lebar peredaran barang haram (Narkoba), sehingganya permasalahan seakan bertambah kompleks.

04 February 2009

Pendidikan agama non formal juga butuh diperhatikan


Taman pendidikan Alqur’an atau taman pendidikan seni Alqur’an adalah lembaga pendidikan yang ada di masyarakat non formal. Posisinya dirasa sangat perlu keberadaannya dalam mencetak generasi qur’ani. Hal ini sangat relevan dengan kondisi sekarang dimana pemerintah Sumatera Barat mencanangkan konsep “kembali ke surau”.
Wajar memang tatkala efek dari globalisasi telah merambah disemua kalangan,penanaman dan pemantapan pondasi aqidah sebagai dasar hidup mutlak harus, apabila generasi muda kita. Tentu mustahil “adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah”akan dapat menuai hasil apabila tidak adanya usaha dari kita untuk menjalankannya.
Pasaman Barat,gebrakan untuk mencanangkan pendidikan Alqur'an belum begitu tampak,walaupun ada namun belum begitu terasakan. Kemandulan selama ini masih menyelimuti generasi pemerhati pendidikan harus dihidupkan kembali. Sekarang pertanyaannya adalah kita ingin berfikir atau apakah kita akan memperhatikan kemunduran?. Pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan harus bertanggung jawab,begitu pula mahasiswa yang telah diakui keberadaannya sebagai “Agen of Change”. Gebrakan dan pemikiran ini sudah mulai digerakkan dalam kurun beberapa tahun yang lalu oleh masyarakat desa Sidomulyo,kecamatan Kinali,Pasaman Barat. Tidak kurang dari 125 santri yang aktif untuk mau menuntut ilmu Alqur'an dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK,SD sampai SLTA, yang mengikuti pendidikan baik di mesjid,mushalla ataupun dirumah-rumah.
Agus Hendra (Mahasiswa Universitas Negeri Padang),yang telah terjun dalam taman pendidikan Alqur’an ini mempunyai target misi “Memberantas buta huruf baca Alqur'an di desa ini” dan misi pencerdasan ini akan dilanjutkan ke daerah yang lebih luas lagi di kecamatan Kinali dan pasaman barat khususnya.“Tidak semua mencontoh itu buruk “paparnya. Sistem pendidikan ini juga akan disesuaikan, dan programnya tidak jauh beda dengan kota Padang yang cukup sukses dalam pelaksanaannya, juga mempunyai nilai tersendiri dalam mencanangkan kembali ke surau.
Taman pendidikan alquran (TPA/TPSA) di pasaman barat sebenarnya di tiap-tiap desa baik di surau atau di rumah-rumah sebagian telah ada, namun yang perlu diseriuskan adalah masalah “Sistem pembinaannya yang belum terkoordinir secara baik”, yang perlu menjadi renungan adalah bagaimana kita akan mendapatkan hasil yang baik apabila prosesnya kurang begitu tetata secara baik. Untuk membangun pasaman barat jangan lupakn manusianya,apalagi generasi mudanya. Apabila kondisi ini dibiarkan,tunggu kehancuran.

17 November 2008

Kabupaten Pasaman Barat

Written by Palupi P Astuti/Litbang Kompas
Thursday, 31 March 2005
PASAMAN Barat, jangan diidentikkan dengan Simpang Empat. Paling tidak, jangan menggambarkan potensi wilayah ini dari wajah ibu kotanya itu. Kesimpulan tadi didapat dari pernyataan beberapa orang yang tahu atau setidaknya pernah datang ke Simpang Empat, ibu kota Kabupaten Pasaman Barat. Saat bertanya kepada mereka tentang kota ini, jawaban yang terdengar umumnya negatif. "Kota mati" atau "Tidak ada apa-apa di sana", begitu di antaranya.

PERNYATAAN- pernyataan mengenai ibu kota kabupaten yang baru berpisah dari induknya, Kabupaten Pasaman, pada awal tahun 2004 itu memang tidak bisa disalahkan. Kesan yang mereka berikan mungkin didasarkan pada gambaran sekilas yang terlihat.
Di Simpang Empat yang terlihat hanya deretan pertokoan kecil yang tak seberapa jumlahnya serta pasar tradisional yang ramai hanya saat Minggu. Untuk mencari hiburan, secara umum Kabupaten Pasaman Barat memang tidak bisa diandalkan karena belum ada obyek wisata yang dikembangkan.
Maka, kesan-kesan di atas tadi wajar dikatakan oleh mereka yang melihat daerah ini dari "kulit luarnya" saja. Andai mereka mengenal kabupaten ini lebih dalam, mungkin jawabannya berbeda. Kalau saja mereka tahu bahwa tanah Pasaman Barat menyimpan potensi yang cukup besar untuk memakmurkan siapa saja yang hidup di atasnya.
Kesan yang ditampilkan ibu kota yang mengambil sebagian kecil wilayah tentu tidak bisa menggambarkan seluruh wajah kabupaten yang luasnya lebih dari 4.200 kilometer persegi ini.
Kesederhanaan yang mewarnai ibu kota kabupaten ini lebih dikarenakan usia yang dini, meski wilayah-wilayah yang kini masuk Kabupaten Pasaman Barat dulunya adalah kawasan andalan kabupaten induk. Kabupaten Pasaman dulu adalah kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang menjadi sentra kelapa sawit.
Penghasil utama komoditas bahan baku minyak goreng itu adalah kecamatan-kecamatan yang kini bergabung dengan Pasaman Barat. Sebut saja Kecamatan Pasaman, lokasi ibu kota berada, dan Kecamatan Lembah Melintang.
Luas areal perkebunan kelapa sawit seluruhnya kurang lebih 102.000 hektar, sekitar 77.000 hektar termasuk perkebunan inti dan plasma, sementara sisanya adalah perkebunan rakyat.
Dari 102.000 hektar kebun sawit di Pasaman Barat, 62 persennya berada di Kecamatan Pasaman, selebihnya ada di seluruh kecamatan dengan beberapa di antaranya yang cukup luas berada di Kecamatan Lembah Melintang, Kinali, dan Sungai Beremas.
Produksi kelapa sawit yang bisa dipanen hingga sebulan dua kali itu diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. Di Kabupaten Pasaman Barat terdapat 13 pabrik kelapa sawit, namun hanya lima di antaranya yang aktif dengan kapasitas produksi masing-masing pabrik 40 hingga 80 ton CPO per jam.
Produksi tandan buah segar kelapa sawit tahun 2002 sebanyak 854.000 ton lebih. Setelah diolah setengah jadi menjadi CPO, hasilnya dibawa ke Padang untuk diolah menjadi minyak goreng, sebagian dari itu juga diekspor ke Malaysia.
Pengangkutan CPO dan sumber daya alam Pasaman Barat lainnya secara massal melalui Pelabuhan alam Air Bangis di Kecamatan Sungai Beremas. Pelabuhan kecil itu menjadi satu-satunya pelabuhan andalan angkutan perairan wilayah ini.
Air Bangis yang belum bisa disinggahi kapal besar menyediakan angkutan penumpang dan barang yang menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Padang dan daerah-daerah sekitar. Untuk ke depan, kabupaten yang memiliki perairan sepanjang kurang lebih 142 kilometer ini berencana mengembangkan Pelabuhan Air Bangis menjadi pelabuhan samudra yang bisa disinggahi kapal-kapal besar.
Selain transportasi air yang dilayani Pelabuhan Air Bangis, Pasaman Barat juga memiliki terminal angkutan darat. Dua jenis angkutan yang tersedia adalah angkutan pedesaan yang menggunakan mobil minibus dan antarkota/antarkabupaten dengan memakai bus-bus berukuran sedang.
Selain itu masih ada trayek antarprovinsi, yaitu bus menuju Kota Medan, Sumatera Utara, yang dilayani di terminal bus Ujung Gading, Kecamatan Koto Balingka. Meski sudah memiliki angkutan dalam kota, sayangnya tidak semua pelosok daerah dijangkau. Untuk itu tersedia ojek yang melayani penumpang hingga ke daerah-daerah pinggiran Pasaman Barat.
Meski transportasi di Pasaman Barat sendiri masih terbatas, wilayah ini sesungguhnya daerah yang ramai dilalui kendaraan dari wilayah-wilayah lain. Kabupaten ini masuk jalur pesisir barat Sumatera.
Letaknya yang di perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara membuat kabupaten ini memiliki arus transportasi yang cukup ramai setiap hari. Truk-truk bermuatan komoditas pertanian dan perkebunan dari Padang atau Sumatera bagian selatan menuju Sumatera Utara atau sebaliknya, setiap hari melintas di jalan-jalan utama Pasaman Barat sejak pagi hingga larut malam hari.
Sebagai daerah perlintasan, tak heran jika setiap malam selalu terlihat puluhan truk parkir di halaman satu-satunya penginapan terbaik di sini. Sopir-sopir truk tersebut umumnya berasal dari wilayah di luar Sumatera Barat, bahkan dari Jakarta, yang singgah untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali esok harinya.
Peluang menjadi daerah transit sepertinya kurang dilirik Pasaman Barat. Sarana dan prasarana yang hendak dilengkapi lebih bertujuan untuk mengembangkan sektor primer. Selain produsen kelapa sawit, tanah Pasaman Barat juga sangat cocok ditanami beragam tanaman pangan dan perkebunan lain.
Produk jagung pipilan wilayah ini dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh peternak di Sumatera Barat, juga Riau dan Jambi. Tanaman jagung yang ditanam di areal seluas kurang lebih 10.000 hektar, per hektarnya bisa menghasilkan 6-7 ton jagung pipilan.
Tanaman pangan lain yang juga menjadi unggulan daerah ini adalah cabe dan buah jeruk. Jeruk Pasaman yang banyak ditanam di Kecamatan Pasaman, Koto Balingka, Ranah Bantahan, dan Sungai Beremas bahkan merajai pasaran buah jeruk di Sumatera Barat.
Palupi P Astuti/Litbang Kompas

sumber : cimbuak

Pasaman Barat Merajut Diri

Empat tahun berdiri dan kini menanti investor
Pasaman Barat merajut diri dengan segudang potensi
oleh : Martin Sihombing www.bisnis.com

Setelah empat tahun mandiri sebagai kabupaten sendiri berpisah dari Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat pun mulai mengedepankan potensi ekonominya. Berbagai sektor menjanjikan prospek cerah, tinggal investor yang datang untuk menggarapnya.
Perjalanan selama hampir tiga jam dari Padang menuju Pasaman Barat nyaris tidak membosankan. Pemandangan alam yang memperlihatkan Pasaman Barat sebagai kawasan pertanian dan pariwisata membuat perjalanan cukup menggairahkan.
Dengan beragam pemandangan alam yang diperlihatkan, dari mulai pegunungan hingga lahan pertanian, tak ayal, tekad Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat yang hendak menjadikan pertanian sebagai modal utama dalam mendorong perekonomian kabupaten itu tidak bisa disangkal lagi.

"Usia kami memang masih seumur jagung. Sejak diresmikan menjadi kabupaten, umur Pasaman Barat baru empat tahun. Kendati demikian, kami optimistis akan mampu mensejajarkan diri dengan saudara kami," tutur Nirwan Pulungan, Bupati Pasaman Barat.
Tentu langkah yang akan dilakukan pemerintah daerah tersebut sudah disusun. Segala potensi yang ada di daerah itu, siap dimaksimalkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi sendiri.
Pasaman Barat, satu dari 19 kabupaten yang berada di Provinsi Sumatra Barat dan mempunyai luas wilayah 4.248,40 km2 itu, kini resmi berdiri sendiri. Semula, kabupaten yang beribukota di Simpang Empat dan resmi menjadi kabupaten melalui Undang-Undang No. 38/2003 tentang Pembentukan Kabupaten, bagian dari Kabupaten Pasaman.
Dalam posisi sebagai bagian dari Kabupaten Pasaman, nama Pasaman Barat tenggelam. Tak heran, muncul pertanyaan, mampukah Pasaman Barat memakmurkan warganya setelah menjadi kabupaten ?
Di bawah pimpinan Nirwan Pulungan, Pasaman Barat sudah bertekad menyejajarkan diri dengan daerah yang sudah menjadi kabupaten lebih dulu. Bahkan dengan kabupaten yang diklasifikasikan maju.
Modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah bukan tidak dimiliki. Daerah berpenduduk 323.505 jiwa ini bukan hanya memiliki 67 lembaga keuangan, tujuh perbankan dan 60 nonperbankan.
Menurut Nirwan Pulungan, potensi pertanian Pasaman Barat itu terdiri dari tanaman pangan, kebun, hortikultura, laut, dan ikan serta tambang seperti semen, pupuk dan batu bara.
Memang, Pasaman Barat yang alamnya kaya akan potensi alam, mempunyai luas areal perkebunan kelapa sawit sekitar 102.000 ha, sekitar 77.000 ha termasuk perkebunan inti dan plasma, sementara sisanya perkebunan rakyat.
Produksi kelapa sawit yang bisa dipanen hingga sebulan dua kali itu diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. Di Kabupaten Pasaman Barat terdapat 13 pabrik kelapa sawit, namun hanya lima di antaranya yang aktif dengan kapasitas produksi masing-masing pabrik 40 hingga 80 ton CPO per jam.
Menurut data, produksi tandan buah segar kelapa sawit Pasaman Barat pada 2002 sebanyak 854.000 ton lebih. Setelah diolah setengah jadi menjadi CPO, hasilnya dibawa ke Padang untuk diolah menjadi minyak goreng, sebagian dari itu juga diekspor ke Malaysia.

Kabupaten jagung

Bahkan kini kabupaten itu berpeluang menjadi kabupaten jagung seperti halnya yang diraih Provinsi Gorontalo. Hal itu diakui Andy Gumala, Direktur Bisnis PT Du Pont Indonesia.
Andy Gumala memberi contoh di Indonesia sebenarnya ada sebuah daerah sebagai lumbung jagung, yakni di Gorontalo.
Kini, tambahnya, Gorontalo dikenal oleh masyarakat luas sebagai provinsi jagung. Tapi bukan tidak mungkin, Pasaman Barat akan dikenal sebagai kabupaten jagung.
Alasannya, Pasaman Barat termasuk salah satu daerah sentra jagung yang mempunyai luas areal pertanaman jagung seluas 20.000 ha per tahun, dari potensi seluas 30.000 ha per tahun. Dari jumlah tersebut, 15.000 ha di antaranya sudah ditanami jagung hibrida.
Pada 2000 telah dimulai penanaman jagung hibrida Pioneer seluas 1.000 ha. Pada 2004 melonjak secara fantastis hingga 12 kali lipat hingga mencapai 12.000 ha dalam kurun waktu empat tahun.
"Dari hitungan saya, dengan rata-rata kepemilikan lahan di Pasaman Barat ini satu hektare per petani dan menghasilkan rata-rata tujuh ton per hektare, maka petani akan mendapatkan penghasilan kotor setiap panennya Rp6,5 juta," papar Andy.
Pasaman Barat, yang tidak setenar nama Bali sebagai kawasan wisata atau Karawang di Jawa Barat yang menjadi lumbung pangan nasional, menurut Pulungan, kini mulai gandrung dengan hibrida.
"Kami ingin menjadi kabupaten jagung," ungkap Bupati Pasaman Barat itu kepada Bisnis di sela-sela Pasaman Barat Pioneer Expo 2005 belum lama ini.
Guna mengantisipasi peningkatan jumlah produksi akibat apresiasi petani jagung di Pasaman Barat, Andy memohon kepada pemerintah, melalui Ditjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, untuk dapat menyediakan infrastruktur pendukung berupa mesin pemipil, mesin pengering dan pergudangan (silo).
Hal ini dimaksudkan agar petani mendapatkan pelayanan pascaproduksi agar, saat panen, jagungnya tetap berkualitas tinggi, dan tidak langsung dimasukkan ke karung seperti saat ini, sehingga jagung tetap bersih, harganya tinggi dan bebas dari bercak-bercak hitam karena jamur aflatoksin.

Potensi wisata

Tidak hanya berhenti di situ. Dari hasil kunjungan Bisnis belum lama ini, kabupaten muda ini mempunyai potensi wisata yang tidak kalah menariknya.
Gunung Talamau yang terletak di Kabupaten Pasaman Barat ini merupakan satu dari beberapa gunung yang mempunyai panorama alam yang menarik di ranah Minangkabau.
Dengan ketinggian 2.982 meter di atas permukaan laut (dpl) menjadikan gunung tersebut sebagai puncak tertinggi di wilayah Sumatra Barat.
Gunung Talamau bisa didaki dari Desa Pinaga. Gunung ini mempunyai keunikan yaitu pada puncaknya terdapat banyak telaga dan umumnya jumlah telaga tersebut selalu berbeda-beda dan tidak selalu sama setiap dijumpai para pendaki. Jumlah yang umum terlihat adalah 13 telaga.
Gunung Talamau berdekatan sekali dengan Gunung Pasaman hanya dipisahkan oleh sebuah sungai.
Dari daerah puncak Gunung Talamau bisa melihat dengan jelas puncak Gunung Pasaman atau yang dikenal juga dengan sebutan sebagai Puncak Rajo Imbang Langik yaitu nama yang diambil dari nama seorang raja yang pernah bertahta di Pasaman beratus tahun silam.
Untuk mencapai puncak Gunung Talamau akan melewati enam pos. Dari puncak Gunung Talamau bisa menyadel atau turun dan naik ke Gunung Pasaman. Penduduk di sekitar Gunung Talamau ini hidup dengan mata pencaharian bertani.
Gunung ini lebih terawat dibandingkan dengan Gunung Marapi dan Singgalang. Sangat bersih. Itu tidak terlepas dari dedikasi penduduk setempat yang selalu menjaga keasrian dan kebersihan Gunung Talamau dari pendaki-pendaki yang tidak bertanggungjawab.
Untuk akomodasi yang ada dan tidak jauh dari gunung ini adalah Hotel Hamco dan Wisma Yanti di Padang Tujuh yang berjarak sekitar 3 km dari Desa Pinaga. Selain itu, terdapat lokasi Camping Ground di Bukit Harimau Campo yang tidak jauh dari lokasi air terjun Puti Lenggo Geni.
Selain keindahan alamnya gunung ini juga banyak menyimpan cerita-cerita menarik yang berasal dari legenda yang dipercaya oleh penduduk setempat. Seperti contoh saat memasuki Padang Siranjano, diwajibkan untuk membaca "Assalamualaikum" karena dipercaya di daerah tersebut dihuni oleh seorang kyai.
Menarik pula, nama-nama puncak dan telaga di gunung ini juga diambil berdasarkan beberapa cerita legenda yang diyakini oleh penduduk disekitar Gunung Talamau ini.

Potensi Tambang

Sektor pertambangan, menurut Pulunga, juga merupakan salah satu potensi yang teramat besar di wilayah Pasaman Barat.
Sejak zaman penjajahan Belanda, konon, di wilayah Pasaman Barat sudah diketahui ada potensi tambang emas. Masyarakat secara tradisional membuktikan kenyataan itu dengan mendulang emas di pinggir-pinggir kali ataupun di kaki-kaki bukit.
Juga ada bahan baku untuk industri semen di Desa Muaro Kiawai, Kecamatan Gunung Tuleh, yang depositnya tersedia 2 miliar ton dengan luas sebaran 2.500 ha, bisa untuk produksi selama 300 tahun. Setidaknya di Pasaman Barat terbuka peluang membuka industri semen.
Dari Gunung Talamau, berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Research Center for Geotechnology The Indonesian Institute of Sciences), khususnya di daerah itu ditemukan berbagai jenis batuan, yaitu batuan volkanik produk Galau Talamau (andesit, andesit basaltik, basalt).
Kemudian, batuan kelompok Woyla yang ditemukan di Sungai Tambang Pambaluan seperti meta batupasir teralterasi dan termineralisasi selang-seling dengan batu sabak dan sering diterobos oleh urat-urat kuarsa.
Batuan Kelompok Mengae Woyla seperti sekis glaukofan, marmer beraneka, dan batuan granit sebagai anggota Formasi Kanaikan, serta batuan tufa anggota batuan volkanik tak terbedakan. Batuan Kelompok Woyla dan Formasi Kanaikan ini juga ditemukan di S. Simpang Dingin. Batuan volkanik (basalt) produk G. Langsat, dan batuan terubah termineralisai daerah Salido.
Dari Major Elemen menunjukkan batuan beku di kawasan itu dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu basa (basalt), menengah (andesit), agak asam (dasit), dan granit (asam).
Batuan volkanik yang ada termasuk tipe Calc-Alkalin dan hanya dua contoh batuan yang masing-masing dari kawasan itu dan Salido yang menunjukkan sifat Tholeitik. Secara umum batuan volkanik yang ada posisi dalam lingkungan tektoniknya sebagai Backarc-side.
Namun harus diakui, seperti dikatakan Nirwan Pulungan, Pasaman Barat adalah daerah bahari yang memiliki pantai sepanjang lebih kurang 100 km.
Dalam hal ini, terbuka peluang investasi pengembangan sektor kelautan seperti budi daya udang, rumput laut, dan potensi kelautan lainnya. Gubernur Sumbar Zainal Bakar bahkan pernah mengharapkan Pelabuhan Airbangis dikembangkan menjadi pelabuhan samudra.
Itulah sekilas wajah Kabupaten Pasaman Barat dengan segudang potensinya.

sumber : rangtalu.net

Gunuang Talamau


Tulisan iko basumber dari www.wisatamelayu.com

A. Selayang Pandang

Gunung Talamau dengan ketinggian 2982 meter dari permukaan laut (dpl), merupakan gunung tertinggi di Provinsi Sumatera Barat. Karakteristik Gunung Talamau termasuk salah satu dari gunung api, tetapi Talamau termasuk gunung yang tidak aktif. Gunung tersebut menyimpan segudang pesona yang sayang tuk di lewatkan. Kawasan hutan yang masih perawan, ditingkahi kicauan burung yang bersahutan berpadu dengan keindahan puluhan telaga yang terserak di kawasan gunung, membuat perjalanan panjang para wisatawan takkan terasa sia-sia. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Gunung Talamau berasal dari berbagai jenis batuan, yaitu batuan vulkanik produk Galau (campuran) Talamau, yang dari Major Elemen yang menunjukkan batuan beku di kawasan itu dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu jenis batuan basa (basalt), menengah (andesit), agak asam (dasit), dan granit (asam).

B. Keistimewaan

Gunung Talamau ditumbuhi oleh beberpa jenis tumbuhan hutan yang terdiri dari famili Dipterocarpaceae dan hutan famili lauraceae. Famili Dipterocarpaceae terdiri dari tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans), markisa (Passiflora sp.), sirsak (Annonaceae), senggani (Melastoma sp.). Di samping itu, bunga edelwis yang tumbuh bermekaran melengkapi jenis tumbuh-tumbuhan yang bermekaran di lereng Gunung Talamau.

Di dalam hutan terdapat berbagai macam aneka satwa seperti burung dan binatang. Satwa burung yang ada adalah: rangkong (Buceros rhinoceros), sempidan sumatera (Lophura inornata), burung alap-alap (Black-thighed Falconet), ayam hutam merah (Red Junglefowl). Sedangkan satwa jenis binatang yang sering terlihat di gunung ini adalah: babi jenggot (Sus barbatus), musang leher kuning (Martes flavigula), owa (Hylobates muelleri), lutung dahi putih (Presbytis frontata), bajing tiga warna (Callosciurus prevostii), dan tupai gunung (Tupaia montana), beruang madu (Helarctos malayanus), musang belang (Hemigalus derbyanus), kucing batu (Felis marmorata), rusa (Cervus unicolor) dan macan dahan (Neofelis nebulosa) yang sering disebut oleh masyarakat setempat dengan harimau Campo.

Selain keragaman flora dan faunanya, di dalam hutan yang ada di lereng gunung ini juga terdapat air terjun yang cukup besar yang oleh masyarakat setempat diberi nama Air Terjun Puti Lenggo Geni. Keberadaan air terjun yang mempunyai tinggi 109 m tersebut, tentunya akan semakin menambah keindahan panorama Gunung Talamau.

Di tengah rimbunnya hutan Gunung Talamau atau tidak jauh dari puncak gunung, terdapat 13 telaga. Ke-13 telaga tersebut adalah: Talago Puti Sangka Bulan, Talago Tapian Sutan Bagindo, Talago Tapian Puti Mambang Surau, Talago Siuntuang Sudah, Talago Puti Bungsu, Talago Rajo Dewa, Talago Satwa, Talago Lumuik, Talago Biru, Talago Mandeh Rubiah, Talago Imbang Langik, Talago Cindua Mato, dan Talago Buluah Parindu. Air telaga yang jernih merupakan salah satu sumber mata air yang sering di manfaatkan oleh para pendaki untuk di konsumsi.

C. Lokasi

Gunung Talamau terletak di Desa Pinagar, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

D. Akses

Untuk mencapai gunung ini bisa dilakukan dari dua arah yaitu dari Rao (Perbatasan Sumut-Sumbar) dan kota Padang. Berhubung dari kota Padang banyak tesedia transportasi yang melayani rute Padang-Pasaman Barat, para wisatawan yang mau berwisata ke Gunung Talamau biasanya menggunakan rute ini. Para wisatawan bisa menggunakan angkutan umum dengan waktu tempuh sekitar 6 jam dengan biaya sebesar Rp. 30.000 per orang.

Setelah sampai di lokasi, para wisatawan bisa memulai pendakian. Titik awal pendakian bisa di lakukan dari tiga titik, yaitu: desa Pinagar, Malampah dan Kinali dengan lama waktu pendakian sekitar 12 jam.

E. Tiket

Untuk pendakian Gunung Talamau para wisatawan dikenakan biaya Rp. 4000 per orang yang dibayar di pos II.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di tempat ini tersedia jasa guide untuk memandu para wisatawan. Disamping itu, juga tersedia 5 pos untuk tempat beristirahat.

(Noor Fadlli/wm/14/02-08)



sumber foto talamau : http://photohighcamp01.tripod.com/talamau/index.htm

Followers